here i come

Minggu, 13 Juli 2008;

Here I come, Surabaya..

sekitar pukul satu siang aku sampai di kota panas.Surabaya.Hehe..sebaiknya tidak ber-negative thinking dulu. Tapi aku tidak pernah merasakan udara sepanas ini di kotaku tercinta, Tumpang.

Sampai di daerah Keputran (baca: Keputran, jangan Kaputran), kami (Aku dan Jayanti Utari,peserta PKL di Surabaya) segera menuju gang 3 pasar kecil Kaputren untuk survei boarding house untuk ditempati selama seminggu selama PKL di Surabaya. Setelah melihat-lihat beberapa rumah, kami mendapatkan sebuah rumah yang relatif terjangkau, yaitu 85rb per bulan, jika dibandingkan dengan harga rata2 200rb per bulan.

Ya, memang bagi saya memilih tempat kos satu itu hanya karena pertimbangan harga.Sedangkan saya belum mengalami konfilknya di tempat kos itu.

Oke, hal pertama yang harus kami lakukan adalah menyulap kamar kos kita agar lebih layak ditempati. Jadi, segera saja kami melaksanakan kerja bakti bersama. Kami merombak isi kamar, membersihkan, dan menempatkan isi kamar seperti semula. Tapi tidak sama persis dengan awalnya. Kami melakukan sedikit improvisasi dalam tata letak kamar.

Tempat kos kami cukup oke. Kami mendapatkan lantai 2 sepenuhnya. Di lantai 2 ada 2 kamar dan ruang tempat nonton tv (kalau saja ada tv nya) atau makan malam (kalau misalnya kami beli nasi bungkus). kami hanya menempati satu kamar, sedangkan kamar satunya lagi tidak berpenghuni. jadi kami bisa menikmati ruang lantai 2.

Emm..kurang enaknya, sebut saja, kurang fasilitas pelengkap. Terutama colokan. Padahal kami tentu sangat membutuhkan itu. Karena tidak adanya colokan (lebih tepatnya ada colokan, tapi tidak berdaya guna), jadi kehidupan kami di kos sangat garing,jayus. Sepi. habis sholat isya segera saja tidur, padahal belum ngantuk. Terpaksa, karena tidak ada kegiatan lain. Nonton film dari laptop pun urung kami laksanakan. Jadi ketika di kentor (PKL), segera saja dan tanpa tedeng aling-aling, kami mendayagunakan colokan. Mengisi batere hp, dan memanfaatkan laptop untuk browsing dan download..

Yang lebih menyedihkan lagi, biaya makan tidak tahu diri. Seporsi kare ayam atau krengsengan daging, harganya mencapai 6000 rupiah. Aku langsung beralih ke menu lain, yaitu sayur eseng-eseng sawi dan telur dadar. Namun nasib, harganya tak jauh beda. yaitu 5rb rupiah. Menghadapi hal seperti ini, aku melakukan survei tempat makan, dan kemungkinan di tempat itu akan lebih terjangkau. Indikasi: banyak cewek seumuranku (baca: anak kos) yang sedang mengantri makanan. Dan tentunya yang pasti, dan akan selalu aku lakukan, yaitu membawa air mineral sendiri. Lumayan untuk menghemat.

Selama seminggu di Sby aku akan sedikit pelit. bahkan dalam hal makanan. Sedih..

~ by yunoume on July 14, 2008.

2 Responses to “here i come”

  1. Lho? Tumpang itu kota ya? baru kali ini denger. Di peta ada gak sie he3 v:D

  2. hmm.. sekarang tinggal laporannya.. sudah rampung kah? :p

    SIG meg.. asoy materi bhs inggris semua…

Leave a Reply